Share

Tampilkan postingan dengan label FF. Tampilkan semua postingan


Title:  Like An Angel
Author: Arumly/Kim Ji Rin
Cast:
Ø  Kim Jae Joong as Himself
Ø  Kim Ji rin as Cho Seon Yo
Ø  Kim Jae Jun as Jae Joong  Dongsaeng
Ø  Jung Il Woo as Seon Yo ex- boyfriend
Ø  Jessica Jung as Jae Joong ex- girlfriend
Ø  Jang Geun Seok as Cho Seon Yo’s older Brother
Ø  Member DBSK
Genre : tragedy at firstly then Romance
Rated : teenage
Disclimer :
Aku selaku author bukanlah orang yang mengontrak pemeran disini. Tapi, aku membuat ini untuk mereka. mereka yang memberikan banyak inspirasi.
Gomawo oppa, gomawo unni.
Ah~ matta. Selama menulis FF ini aku ditemani alunan musik yang indah dan suara – suara merdu dari member DBSK dan JYJ. Gomawo buat In Heaven sama Don’t Cry My lover nya.
            FF ini setting waktunya ceritanya kalo JYJ g pernah keluar dari SMent. Yah, hehe. Anggap aja mereka masih di management itu.
            Juga makasih buat Lia Indra buat novelnya yang menginspirasi. #far kiss
            Oh iya nih FF dibuat saat ngebaca lyric Jae Joong I’ll Protect you. Bebeh BooJae hebat. Liriknya menyentuh. Tapi maaf kalo FF ini kurang menyentuh jiwa. #bow

Chapter 3

           
Cho Seon Yeo terbelalak melihat adegan yang ada di depannya. Oh tidak, itu bukan adegan. Tapi benar – benar terjadi, di depan mata Seon yo sendiri. Ia lalu menghampiri dua sejoli yang sedang berciuman itu.
            “ oh, geure, kau bilang hanya aku yang kau cintai huh? Tapi begini kenyataannya. Kau justru menciumnya. Bahkan aku yang kau bilang kekasihmu ini belum pernah mendapatkannya darimu. Nappeunnom” teriak Seon Yo pada Jung Il Woo. Sontak kedua orang itu terkejut. Sang wanita melepaskan ciumannya.
             Il Woo menoleh melihat asal suara itu. Didapatinya Seon Yo yang sedang menangis dan berdiri disana. Dandanannya rapi, tubuhnya dibalut dress berwarna cream yang anggun. Sepertinya ia sengaja ingin bertemu kekasihnya itu. Namun ia malah melihat suatu kenyataan yang sangat menyakitkan dan menyesakkan hatinya dan membuatnya mengubur dalam – dalam keinginannya untuk mengajak kekasihnya itu menemui orang tuanya di Daegu.
            “ Seon Yo Ah~” kata Il Woo sambil berjalan meninggalkan wanita tadi dan mendekati Seon Yo.
            “ Naega aniya... aku tak bermaksud untuk...” sebelum Il Woo makin dekat dengan nya Seon Yo memotong kata – kata Il Woo. “ geuman. Jangan dekati aku lagi. kurasa ini sedah cukup  jelas. Hubungan kita... cukup sampai disini”
“na galke” Seon Yo lalu membalikkan badannya. Berlalu dari tempat itu. Tapi, Park Il Woo mengejarnya. Ia meraih tangan Seon Yo  yang sekarang tidak terlalu jauh darinya. Ia menarik gadis itu kedalam pelukannya. Seon Yo mencoba bergeming. Tapi tak bisa , semakin ia mencoba tubuh kekar Il Woo makin erat memeluknya. Entah apa yang harus ia lakukan. Ia hanya bisa menangis sejadinya.perasaan itu masih ada di dalam hatinya.
Mianhae ippeuni[1],” Kata Il Woo lembut dan mengeratkan tangannya tyang mendekap Seon Yo.
Mianhae Seon Yo ah~” katanya lagi.
Seon Yo masih menangis. Menangis sejadinya. Ia tak mau lebih tenggelam dalam perasaan yang sangat menyakitkan ini. Ia mulai berontak agar Il Woo melepaskannya.
Jamgeuman Seon Yo ah~. Aku ingin kau tahu semuanya.
“ a... andwae. Aku tak mau dengar lagi” Seon Yo masih terisak.
geumane” katanya lagi.
sireo[2]” kata Il Woo.
Il Woo lalu menangkupkan tangannya di pipi Seon Yo. Membuat wajah Seon yo menatapnya. Wajah mereka makin dekat. Seon Yo merasakan sesuatu yang lembut dan hangat menempel di bibirnya. Il Woo menciumnya.
            Gadis itu terbelalak saat Il Woo mencium bibirnya. Apa yang dia lakukan, pikirnya. Seon Yo tidak membalas ciuman Il Woo. Ia justru berdiri mematung sampai v menghentikan aksinya itu.
“ nan jeongmal saranghae” pria itu berkata dengan sangat lembut.
            Sesak. Begitu sesak. Sulit sekali untuk bernapas. Itu yang dirasakan Seon Yo sekarang. Sulit dipercaya.
            “ geumane, aku tidak bisa lagi.” Seon Yo lalu pergi meninggalkan Il Woo. Ia berjalan menyeberang jalan. Di kejauhan sana tanpa disadari Seon Yo sebuah mobil mewah berwarna putih melaju dengan cepat. Sangat cepat. Tapi tiba – tiba saja mobil itu oleng tak terkendali. Il Woo berlari ke arah Seon Yo. Melompat dan memeluknya. Terlambat.
Brak...
Mobil itu menabrak mereka berdua. Il Woo memekik sebelum akhirnya ia jatuh tersungkur. Sementara Seon Yo juga jatuh dan pingsan tak jauh dari Pria yang berhasil membuatnya jatuh cinta itu.  Darah segar mengucur dari pelipis Pria tinggi nan tampan itu yang menghantam kerasnya aspal. Sementara tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak. Hantaman keras menimpa tubuhnya tadi. Ia melihat Seon Yo yang pingsan. Pria itu menggerakkan sedikit jari – jarinya merengkuh jari – jari Seon Yo. Ia tersenyum, tapi air mata mengalir jatuh dari matanya. Orang – orang datang berkerumun disana, tak lama kemudian semburat cahaya datang, dan beberapa orang mendatangi mereka. Sekilas Il Woo menyadari mereka itu polisi dan petugas rumah sakit. Seon Yo akan tertolong dan Il Woo, ia hanya berpikir agar Seon Yo saja yang tertolong. Tak apa jika ia tak tertolong. Ia ingin membalas hutangnya kepada gadis itu. Ia merasa sudah tak pantas lagi untuknya. Lebih baik ia mati dari pada harus hidup dan terus membuat guratan – guratan menyakitkan di hati satu – satunya gadis yang telah berhasil membuatnya terpesona dan mencintainya sedalam ini.


Chapter 4

           
            Seon Yo membuka matanya sedikit demi sedikit lalu mengerjap – ngerjapkan kedua mata belonya itu. Dilihatnya ruangan putih, dengan atap putih, dan ditemukannya ia berbaring di kasur.. Apakah aku sudah mati?pikirnya.
“ Seon Yo ah~” seseorang memanggilnya. Ia menolehkan wajahnya. Ibunya. Ia terlihat habis menangis.
“Umma~ “ ucapnya.
“ aku... aku... aku ada dimana? Apa aku sudah mati?” tanyanya penuh heran.
Tubuhya masih lemas, nafasnya masih tersenggal – senggal.
Cklek. Pintu terbuka
“ Seon Yo ah~” seseorang yang baru masuk memanggilnya. Kali ini suara seorang lelaki.
“ oopa?” katanya.
Ya kakak laki – laki Seon Yo datang. Ia baru pulang dari Amerika. Namanya Jang Geun Seok . Ia seorang yang tampan, bersuara merdu, tapi ia sangat jahil sampai sampai diberi julukan evil.  Meski demikian ialah kakak tersayang Seon Yo. Ia tidak akan pernah membiarkan adik kesayangannya itu terluka. Semenjak kematian ayah mereka Jang Geun Seok berjanji akan menjaga ibu dan adiknya itu. Sekarang Geun Seok tinggal bersama istrinya di Amerika. Disana ia mengurus perusahaan warisan dari sang ayah.
            Pria itu mendatangi tempat tidur Seon Yo. Lalu meraih tangan Seon Yo dan membalik – balikkan tangan gadis itu.
“ kau, mana yang terluka? Kau bagaimana bisa begini? Seharusnya kau jaga diri saat oppa sedang ada di Amerika.”
            Seon Yo meringis saat tangan kakak laki – lakinya membolak – balikkan tangannya.
“ ya! Oppa, aku baik – baik saja. Kenapa kau cerewet sekali? Kau bahkan lebih cerewet dari ibu. Tadi malam aku dan Il Woo tertabrak. Ia menolongku. “Air muka Seon Yo tiba – tiba berubah. Il Woo. Benar dia ada di mana. Seon Yo mendadak jadi khawatir. Ia bersiap melepaskan jarum infus dari tangannya.
“ Seon Yo. Apa yang kamu lakuakan?” Geun Seok ikut – ikutan panik. Ibunya sejak lima menit lalu keluar membeli makanan.
“ Oppa, dia ada dimana?” Tanya Seon Yo penuh kepanikan.
Ia ingin segera melompat dari tempat tidur lalu menemui Il Woo. Pria yang ia cintai yang telah menyelamatkan hidupnya.
“  Siapa? Il Woo?” wajah oppanya itu tiba – tiba berubah. Ia terlihat termenung.
“ Oppa, katakan apa yang terjadi? Dia kenapa? Dia baik – baik saja kan?” Seon Yo menggoyang – goyangkan tubuh oppanya.
Tapi yang terjadi. Geun Seok menggelengkan kepalanya lemah lalu berkata.
“ Maaf aku tidak mengatakan sejak tadi. Aku takut kau akan langsung drop.” Pria itu menunduk.
“ dia... dia... sudah pergi untuk selamanya.”
“ Oppa,” tangisan Seon Yo langsung pecah
“ Antarkan aku padanya. Tidak mungkin dia  sudah meninggal. Tidak mungkin. Dia pasti hidup untukku.” Seon Yo melompat deri ranjangnya. Ia melepaskan jarum infus yang menancap di tangannya. Lalu berlari mendekati pintu. Geun Seok menyusulnya.
“ baik, aku akan mengantarkanmu padanya” Geun Seok lalu memapah adik satu – satunya ini. Mereka berjalan menuju rumah duka di rumah sakit itu. Banyak karangan buga yang berdiri disana. Juntaian pita tanda duka cita juga terpasang di rangkaian bunga itu.
Solma. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Kepala Seon Yo menjadi terasa berat. Hatinya terasa begitu sakit seperti ada ribuan pisau yang dengan bebas menggores dan menyayat hatinya. Langkah gontainya membawanya masuk. Sebuah foto terlihat pria itu tengah tersenyum. Bunga terangkai di sekitarnya tulip putih dan mawar putih tergeletak di depan foto itu. Seon Yo maju perlahan. Tangisnya makin menjadi. Ia menutup mulutnya dan jatuh terduduk di depan foto Il Woo. Ia menangis sejadinya. Tiba – tiba saja seorang wanita paruh baya memegang lengannya. Menyuruhnya berdiri dan membawanya keluar dari tempat itu. Seon Yo berusaha berontak. Tapi, wanita itu adalah ibu Il Woo. Beliau dari awal sudah tidak menyetujui hubungannya dengan putra satu – satunya itu hanya karena ayah Seon Yo adalah orang yang pernah membuat wanita itu sakit hati. Ya, ibu Il Woo adalah mantan tunangan ayahnya saat beliau belum menikah dengan ibu Seon Yo. Mereka putus karena ayah Seon Yo lebih memilih ibu Seon Yo dari pada wanita itu. Luka itu tak pernah sembuh bahkan sampai sekarang.
“pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu. Kau sudah membuat harapanku satu satunya pergi untuk selamanya. Kau dan keluargamu, kalian ... kalian ... keterlaluan” katanya sambil menangis.
“ Bibi, bukan maksudku. Aku juga tidak mau dia pergi meninggalkanku. Aku tidak mau semua ini terjadi. Aku juga baru mengetahui ini semua.” Seon Yo mencoba menjelaskan ditengah tangisnya.
“ Cukup, kurasa kita memang sudah seharusnya tidak pernah berhubungan. Seharusnya kalian tidak pernah bertemu” wanita itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Seon Yo sendirian diluar. Padahal, malam itu turun salju. Suhunya sangat rendah. Tubuhnya menggigil. Untunglah oppanya segera datang dan memakaikannya jas yang tadi ia pakai.





[1] sayang
[2] Aku tidak mau



[FF] Like An Angel Chapter 3-4 Full View


Like An Angel
           
Title:  Like An Angel
Author: Arumly/Kim Ji Rin
Cast:
Ø  Kim Jae Joong as Himself
Ø  YOU as Cho Seon Yo (OC)
Ø  Kim Jae Jun as Jae Joong  Dongsaeng (OC)
Ø  Jung Il Woo as Seon Yo ex- boyfriend
Ø  Jessica Jung as Jae Joong ex- girlfriend
Ø  Jang Geun Seok as Cho Seon Yo’s older Brother
Ø  Member DBSK
Genre : tragedy at firstly then Romance
Rated : teenage
Disclimer :
Aku selaku author bukanlah orang yang mengontrak pemeran disini. Tapi, aku membuat ini untuk mereka. mereka yang memberikan banyak inspirasi.
Gomawo oppa, gomawo unni.
Ah~ matta. Selama menulis FF ini aku ditemani alunan musik yang indah dan suara – suara merdu dari member DBSK dan JYJ. Gomawo buat In Heaven sama Don’t Cry My lover nya.
            FF ini setting waktunya ceritanya kalo JYJ g pernah keluar dari SMent. Yah, hehe. Anggap aja mereka masih di management itu.
            Juga makasih buat Lia Indra buat novelnya yang menginspirasi. #kiss bye muach haha
            Oh iya nih FF dibuat saat ngebaca lyric Jae Joong I’ll Protect you. Bebeh BooJae hebat. Liriknya menyentuh. Tapi maaf kalo FF ini kurang menyentuh jiwa. #bow
PROLOG

         
          Kehilangan orang yang kami cintai sungguh menyakitkan. Seketika hidup kami berubah saat itu. Setiap hari hanya ada rasa sakit yang menyayat hati.
            Tapi saat kami berdua saling bertemu, semuanya berubah lagi. Seperti musim semi yang datang setelah gelap dan dinginnya musim dingin. Perlahan rasa sakit itu sirna tergantikan dengan tumbuhnya perasaan saling mencintai diantara kami.
            Makin lama makin menghijau. Membuat kami selalu ingin menjaga satu – sama lain.



Chapter 1

           
            Kim Jae Joong tertunduk menangis di depan foto kekasihnya. Ia menangis begitu sendu. Saat itu hujan juga turun. seperti langit tahu apa yang ia rasakan saat itu. Jae Joong sangat terpukul dengan kematian kekasihnya. Selama ini wanita itu tak pernah menceritakan penyakit itu kepadanya. Ia merasa hanya menjadi orang yang bodoh. Ia merasa selama ini ia menjadi kekasih yang tak berguna. Ia tak bisa menjaga wanita yang ia cintai itu. Perasaan Jae Joong sangat terpukul. Begitu hancur.
            Bunga mawar dan rangkaian bunga banyak terpasang di depan rumah duka. Begitu banyak orang yang datang tapi Jae Joong tak peduli. Ia hanya ingin bersama kekasihnya saat itu. Ia berharap ini bukanlah sebuah kunjungan pemakaman. Tapi sebuah kunjungan perkawinannya yang tepat jatuh pada hari itu juga. Seharusnya sekarang ia ada di altar bersama calon istrinya dan mengucapkan janji setianya. Namun, tuhan berkehendak lain. Calon istrinya kini telah terbujur tak bernyawa tepat dihari yeng mereka nantikan sebagai hari bahagia.
Pagi tadi, saat Jae Joong akan mengantarkan cincin perkawinannya. Ia mendapati wanita yang akan ia nikahi sudah tak bernyawa.
Seseorang menepuk pundak Jae Joong. Membuayarkan ia dari lamunannya.
“Hyung~” katanya.
Rupanya itu adalah adiknya yaitu Kim Jae Jun.
Ia menyodorkan sebuah buku dengan aksen pita yang lucu, dan sebuah buku lagi, ah bukan  itu tidak terlihat seperti sebuah buku tapi sejenis yang bermotif senada dengan buku berpita tadi. Jae Joong menoleh lalu bertanya.
ige mwoya[1]?” tanyanya
“ ini, buku harian Jessica noona, dan album foto kesayangannya. Untukmu hyung ,” katanya.
“untukku?” Jae joong lalu mengambil kedua benda itu dari tangan Jae Jun . Ia beranjak dari tempat itu. Berjalan lunglai ke taman belakang rumah duka.
           Sampai di taman ia duduk di bangku yang memang sudah ada disana lalu perlahan membuka buku – buku itu. Ia memilih untuk membuka buku yang tidak mirip buku itu. Itu adalah sebuah album foto. Lembar demi lembar ia membuka album foto itu. Komentar – komentar lucu tertulis di sekitar foto yang terpampang disana. Seperti foto yang mereka ambil saat pergi ke taman bermain. Di foto itu terlihat Jae Joong yang memakai bando kelinci berwarna pink dan berfoto bersama Jessica. Sebuah komentar tertulis disana.

aigoo~ neomu Kyeopda uri Joongie.  ㅋㅋ. Bagaimana aku bisa punya kelinci seimut ini? Ah ani, kenapa dia bisa begini imut dan tampan?? Kelinci lucu ini tak boleh pergi”
Ia membuka lembar berikutnya. Masih di taman bermain. Terlihat di foto itu Jae Joong yang sedang membungkuk karena sedikit mual dan lagi, sebuah komentar tertulis.
“ omo~ uri Bojae. Kwaenchana. Maaf memaksamu pergi. Aku rasa kau benar – benar sedang tidak enak badan”

            Jae Joong melanjutkan petualangannya menyusuri album foto ini. Kali ini berbeda. Sebuah foto diambil saat ia sedang tidur lelap di ruang latihan. Sepertinya saat mempersiapkan konser tunggal bersama grupnya. Ia belum pernah melihat foto itu. Ini kali pertama ia melihatnya. Tapi kapan dia memfotonya dalam pose seperti ini? Aku tak pernah tahu dia melakukan ini juga, gumamnya heran di dalam hati. Ada beberapa foto yang hampir sama di halaman itu dan sebuah foto dengan sekeranjang minuman suplemen yang selalu diberikan Jessica kepadanya. Kali ini komentarnya cukup panjang.

Aigoo~ kau hebat. Kau seorang yang hebat. Bagaimana aku bisa menjadi milikmu huh? Aku yakin kalau fangirlmu tahu mereka akan marah – marah.
Ahaha. Bahkan saat tidur pun kau sangat mempesona. Mereka mengidolakan orang yang tepat. Pantas saja fangirlmu begitu terpesona saat baru melihatmu. Aku sangat mengagumimu oppa. Haruskah aku ikut ke semua acara fan signingmu? ㅋㅋㅋ. Tapi, maaf aku tak bisa melakukannya. Tubuhku tak pernah mengijinkan itu. Oppa, jaga kesehatanmu, ok!! Jangan terlalu lelah seperti itu. Tidurlah di tempat yang nyaman. Jangan buat dirimu menjadi buruk. Itu sangat tidak baik. Jangan suka minum terlaalu banyak. Kesehatanmu akan terganggu nanti. Aku mengirimkan beberapa botol minuman penuh gizi ini. Minum secara teratur ya! Entah sampai kapan aku bisa terus melanjutkan ini. Hidupku takkan lama. Jangan pernah lupa untuk terus memperhatikan kesehatanmu. Makanlah dengan baik.”

            Jae Joong tak pernah menyangka ini akan terjadi. Ia menitikkan air matanya. Ia kembali membuka halaman album itu. Itu adalah halaman terakhir yang berisi foto. Tak ada foto lagi dihalaman selanjutnya. Di halaman terakhir itu, sebuah foto wanita yang pucat, mengenakan pakaian rumah sakit, menutup mukanya dengan masker, dan menutup kepalanya dengan topi. Di bawahnya ada sebuah komentar.
“ kau mungkin tidak akan mengenaliku dengan penampilanku yang seperti ini”
tidak, aku sangat mengenalimu,gumam Jae Joong.
“ ini saat aku harus menjalani pengobatan di Jerman. Saat itu dia , uri Boojae sedang mengadakan konser tunggal dengan grupnya. Saat aku ingin pergi menonton tiba – tiba kepalaku sangat berat dan semua menjadi gelap. Dokter bilang tak ada yang bisa dilakukan lagi. Penyakitku sudah terlalu parah.Aku sebenarnya terpukul mendengar berita itu. Aku teringat padamu. Bagaimana denganmu nanti? Tapi, Aku tidak boleh memperlihatkannya saat aku masih hidup. Aku tidak mau kau khawatir. Itu hanya akan mengganggu pekerjaanmu. Kau tahu, sangat menyedihkan harus hidup seperti ini. Tapi ada orang yang pernah mengatakan. Hadapi, dengan senang hati meski itu  sulit untuk diterima, jangan menangis sayangki. Terima kasih sudah mengatakan itu padaku.
Oppa, cepat cari wanita yang bisa menjagamu. Cari yang bisa membuatmu selalu senang  dan tentu saja yang sehat. Aku sengaja mengosongkan halaman – halaman belakang. Ku harap, setelah kau menemukan wanita itu, kau akan menaruh foto kalian berdua disini. Foto keluarga kecil kalian disini. Hiduplah dengan bahagia. Ingat! Jangan sering membuat yang lain khawatir , ok!.... Annyeong:”

            Kali ini ia mengambil buku harian yang di ikat dengan sebuah pita berwarna merah yang cantik. Ia membolah balikkan lembar demi lembar buku itu. Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah foto tertempel si salah satu halaman. Oh, itu foto mereka saat pergi ke karaoke. Ia lalu membaca catatan harian yang ada di halaman selanjutnya.

31 Desember 2010
            Sangat menyenangkan di malam tahun baru yang dingin ini, aku diselimuti kehangatan yang begitu menenangkan hati. Aku, dan namja chinguku – BooJae- pergi jalan – jalan bersama. Menghabiskan waktu bersamanya sangatlah menyenangkan. Tapi semua itu membuatku sedikit melupakan penyakitku. Tanpa  kusadar tubuhku ini sudah lelah. Aku tak merasakannya mungkin karena perasaanku yang terlampau bahagia ini. Jalan – jalan di Hongdae dan Myeong dong bersamanya benar – benar menyenangkan.   Tapi saat sedang bernyanyi bersama di karaoke darahku keluar lagi. kali ini aku mimisan lagi. huh? Sungguh tidak bisa dipercaya. Kenapa keluar disaat aku bersamanya?. Aku kan jadi harus berbohong. Berpura – pura pergi ke kamar mandi untuk membersihkannya. Lalu kembali seperti tak terjadi apapun. Aku tak pintar ber acting. Kuharap dia tidak akan mencurigai penyakitku. Oh iya, namja chinguku sangat hebat . Ia menyanyikan lagu – lagu itu dengan sangat indah. Ah~ benar – benar menyenangkan. Ia benar – benar seperti seorang penyanyi. Ani, dia memang seorang penyanyi terkenal. Suaranya seperti seorang malaikat. Tetaplah seperti itu. Hiduplah dengan baik.  Selamat tinggal oppa. ”

            Beberapa lembar berikutnya ia menemukan tulusan yang terpatri di kertas diary yang kucel karena air mata.

1 April  2011

April MOP segera datang yeeeay. Aku ingin sekali melakukan sesuatu untuknya. Tapi, dia sedang ada konser di luar negeri. Dia terlalu sibuk sekarang. Aku juga sedang berobat di luar negeri. Aku ada di Jerman lagi. Tapi percuma, dokter sudah menyerah. Aku akhirnya dirawat beberapa hari lalu pulang ke Korea. Wah, Boojaeku belum pulang. Kurasa aku sedikit lega. Setidaknya kali ini aku tidak perlu berbohong lagi kalau dia ingin mengajakku keluar. Sekarang dia sedang ada tour dunia. Aku ingin bertemu dengannya saat ia pulang dari tournya nanti. Tapi, aku menyuruhnya tidak datang saat baru pulang. Karena kami akan menikah setelah itu. Seminggu setelah itu. Aku memintanya jangan menemuiku sampai saat pernikahan datang. tapi apakah aku masih hidup?? Tiap hari tubuhku makin lemah saja. Selamat tinggal , oppa.”

            Jae Joong tak bisa menahan tangisnya lagi. tapi ia tetap membuka – buka buku harian itu. Di setiap akhir catatan tertulis kalimat ‘selamat tinggal , oppa’. Seperti gadis itu tahu kapan ia akan meninggal.

*Jae joong POV*     
Aisshh~ neoga baboya. Batin ku. Kenapa kau pegi secepat ini?? Kau bahkan tak membiarkanku menjagamu dari penyakitmu itu. Dasar bodoh. Bagaimana aku tidak menangis??. Bagaimana kau bahagia? Aku membiarkanku jatuh begitu keras disini.



*Jae Joong POV end*
            Semenjak kepergian Jessica, Jae Jong berubah menjadi orang yang sedikit pendiam dari sebelumnya. Ia hanya bicara apa adanya. Ia jadi seorang yang suka minum. Kali ini minum lebih banyak dari sebelumnya. Tiap hari peringatan kematian jessica ia selalu pergi ke pantai tempat abu Jessica ditebarkan. Ia terus mengenang kekasihnya itu.



Chapter 2
           
           
Ini tahun ke tiga setelah Jessica pergi. Tidak seperti biasa , bukannya langsung ke pantai menebarkan bunga untuk Jessica ia justru pergi ke kedai yang menjual Soju.
“Ajuma, aku ingin satu botol soju” katanya kepada bibi yang berjualan di kedai kecil itu.
            Tak berapa lama kemudian soju yang ia pesan datang juga. Ia meminumnya. Satu gelas. Kemudian dua gelas dan seterusnya sampai Soju di satu botol itu habis.
            Ia tak berhenti begitu saja. Ia memesan lagi lalu meminum lagi. ia melakukannya dan menghabiskan begitu banyak soju.
“aku sudah tidak tahan lagi” katanya entah kepada siapa keadaan mabuk dalam.
“ Soo Yeon ah~ aku akan pergi menyusulmu, arraseo” katanya lagi. Ia mengambil beberapa lembar uang di dompetnya dan ia letakkan di meja. Lalu beranjak meninggalkan tempat duduknya.
            Jae joong berjalan sempoyongan ke arah mobilnya. Ia membuka pintu mobil itu. Sebuah Lambirghini putih yang mampu dikemudikan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia memacu mobilnya dengan kecepatan yang bisa dibilang seperti orang yang sedang balapan di sirkuit. Keadaannya setengah sadar. Ia melewati jalan yang cukup sepi tadi. Tapi, sekarang ia menyusuri jalanan Hong dae. Tempat ini sangat ramai. Justru aneh jika tempat ini sepi. Karena ini tempat gaulnya anak muda kota Seoul. Di jalanan sekitar universitas Hongik ini ia mengemudikan mobilnya dengan cepat. Tapi naas, ban belakangnya tiba – tiba pecah. Mobilnya oleng. Ia tidak bisa mengontrolnya karena kecepatan tadi sangat tinggi. Ia menabrak seseorang, bukan tapi dua orang. Seorang wanita, dan satunya lagi seorang laki – laki. Mobilnya yang tadi oleng itu kemudian berguling dua  kali dan menabrak sebuah tiang listrik disana. Sangat parah. Kepalanya membentur setir. Darah segar mengucur dari pelipisnya. Tubuhnyapun tak dapat digerakkan. Ia melihat di sekitarnya orang sudah berkerumun. Beberapa orang mencoba membuka pintu mobilnya. Kilatan cahaya menyilaukan matanya kemudian semuanya menjadi gelap seketika.

***
           
.           Ia terbangun di sebuah padang luas. Hijau. Angin sepoi yang sejuk itu menerpa wajahnya. Perlahan membuat rumput hijau di bawah menari dengan lembut. Langit biru nan cerah. Burung beterbangan kesana kemari.  Suasana seperti itu membuat perasaan Jae Joong lebih tenang  dari sebelumnya.  Meski luka di hatinya tak juga sembuh.
            Jae Joong berjalan perlahan menyusuri padang itu. Selangkah demi selangkah ia melewati padang rumput hijau nan segar itu. Seekor kelinci manis terduduk di dekatnya. Saat Jae Joong mengulurkan tangannya hendak menangkap kelinci manis itu, kelinci berbulu putih bersih itu justru pergi seperti mengajak Jae Joong bermain – main. Ia berlari mengejar kelinci putih itu hingga saat ia sampai di sebuah pantai. Disana berdiri seorang wanita yang berambut panjang, begitu lembut. Jae Joong  tertegun melihat punggung wanita itu.
            Seperti seorang yang ia kenal. Ia melihatnya sedang menjerit kepada lautan. Meluapkan segala emosinya lalu menangis sejadinya. Ia heran dengan wanita ini lalu melangkah mendekat. 





[1] Ini apa??
[2] sayang
[3] Aku tidak mau
[FF] Like An Angel Author: Kim Ji Rin Chapter 1-2 Full View


CHAPTER 4



Title:  On The Raining Days
Author: Arumly/Kim Ji Rin
Cast:
Ø  Hyorin Sistar
Ø  Yang Yeo Seob B2ST

Genre : Romance
Rated : PG 15
Legth : Chaptered
Disclimer :
maaf baru terbit, 3 chapter sebelumnya yaitu 
yang udah terbit dari jaman jahiliyah tapi chapter 4nya malah baru terbit,, maaf,,, *bow
ya sudah , aku g mau banyak ba-bi-bu. nyok tancap gasnya... happy reading



Ting ... tong...
Bel berbunyi.
“Nuguseyo?” hyorin sedikit mengeraskan suaranya. Tidak ada jawaban. Hyorin yang tadi sedang mencuci piring di dapur segera beranjak ke pintu depan.

Cklek...
Pintu terbuka. Hyorin terperanjat saat melihat sosok yang ada di depannya. Seorang pria tinggi yang manis. Baiklah Yeo Seob memang manis. Tapi mukanya tidak menyurutkan kekesalan di hati Hyorin saat itu.
“ sudah kubilang hari ini aku tidak ingin bertemu denganmu, untuk apa kamu datang kesini sunbae-nim? ...Ah ani, direktur.” Tanpa mempersilakan  masuk Hyorin nyerocos di depan pintu tanpa memerikan kesempatan Yeo Seob untuk bicara.
“ cukup untuk yang kemarin dan tadi pagi. Terima kasih kau sudah berbuat terlalu baik padaku. Tiba – tiba mendekatiku. Huh, apa sebenarnya yang kau mau?? Maaf aku bukan cewe gampangan yang bisa dengan mudah kau rayu. Aku tidak bodoh lagi. aku cukup tersiksa karena kau memperlakukanku terlalu istimewa.”

“ Hyorin, kita bicara pelan – pelan. Aku boleh masuk?” kata Yeo Seob dengan harapan meminta kesempatan untuk bicara dan menjelaskan semuanya. Tapi itu hanya sebuah harapan. Hyorin sudah terlalu marah. Yeo Seob juga tidak tahu pasti sebabnya. Yang ia tahu, Hyorin maeah karena ia tidak bilang kalau dia adalah direktur di tempat Hyorin bekerja. Hanya pikiran sederhana itu yang muncul di benak Yeo Seob.
“Sireo! Sebentar lagi aku akan pergi, lagi pula sebagai seorang direktur, kau pasti sibuk. Pergilah aku sangat tidak mood.” Kata Hyorin dengan menekankan irama pada kata ‘Direktur’ lalu sedikit mendorong Yeo Seob agar pria itu menjauh dari rumahnya.
Braak...
Hyorin menutup pintunya dengan cukup keras.
Ting tong...
Bel kembali berbunyi. Hyorin membuka pintu dengan kasar. Yeo seob masih berdiri disana.
“ kenapa masih disini? Isanim[1] kau harus segera pergi. Maaf kita bicara lan kali saja.” Hyorin kembali bersiap menutup pintunya.
“ ya! Jamkkanmanyeo.” Yeo Seob mencoba untuk menahannya.
“ Sireo !” Hyorin masih memaksa menutup pintu. Mereka berdua saling berlomba tarik – menarik pintu dan perlombaan itu akhirnya di tutup juga.
Hyorin berjalan lunglai ke kamarnya.
Ting .. tong.. dan lagi – lagi bel berbunyi.
            Aish, laki – laki itu benar – benar mengganggu. Hyurin membuka pintu dengan gusar tanpa melihat siapa yang datang langsung bicara
“ yaish, kenapa masih belum pergi, sudah kubilang aku tidak mau bertemu denganmu. Apa kau tuli?”
“ne?” seseorang menjawab. Jelas itu bukan suara isang-nim dan sepatunya. Oh, tidak. Dia bukan Isang-nim. Yaish.
Blush
Muka Hyorin bersemu merah. Ia sedikit mendongakkan wajahnya dan sedikit meringis menahan malu. Terlihat lelaki jangkung dengan hidung mancung, rambut sedikit di cat pirang, berkulit putih, dan tentu saja sangat tampan.
 Omo, nuguseyo?? Hyorin baru melihatnya kali ini. Siapa dia?.


[1] direktur


penasaran kan itu cowoknya siapa???? siapa hayohh, guess it!! yang pasti itu ganteeeeeeeng. nantikan kehadirannya di part selanjutnya

coment is so important
[FF] ON THE RAINING DAYS (CHAPTER 4) Full View


Title: 
  On The Raining Days

Author: 
Arumly/Kim Ji Rin

Cast:
Ø  Hyorin Sistar
Ø  Yang yeo seob B2ST
Other cast:
Ø  Soyu Sistar
Ø  IU as Lee Ji Eun

Genre : 
Romance

Rated : 
PG 15

Legth : Chaptered

Disclimer :
wahh setelah sekian lama, dengan mencoba mengatasi kemacetan ide, author tetap berusaha menyelesaikan part 2 dan 3, meski yang pert 3 belum selesai sepenuhnya, tapi part 2nya kan udah di post, semoga pada suka ya, maaf menunggu lama kalian bisa baca yang part 1 yang udah dikeluarkan sebelumnya ,
FF ini murni hasil kerja keras author...
author berhari nyari wangsit. Capek juga mondar mandir tiap kali dapat ide langsung masuk kamar. Capek juga memikirkan kata – kata yang harus dikeluarkan.
Jadi tolong ya kalo mau ngopy ijin dulu terus dikasih credit source. Ku harap kalian mengerti dan mau menghargai karyaku. Jangan Cuma jadi Silent reader. Kritik dan saran sangat aku butuhkan buat karya – karya selanjutnya. Silahkan coment apapun yang kalian mau.



Chapter 2


                Hyorin siap pergi ke kantor. Setelah mencabut flashdisk dan mengambil print out presentasinya ia keluar dari kamar dan menemui ibunya di dapur untuk berpamitan.
“ kau tidak sarapan dulu nak?” tanya ibunya
“ nggak ma, nanti di kantor aja” Hyorin berlalu. Ia berjalan keluar
Seperti biasanya Hyorin pergi ke kantor dengan menggunakan bis merah menuju Seoul. Ia berjalan menuju halte bis. Saat ia berjalan ia mendengar bunyi klakson dari belakang. Sebuah mobil hitam lalu berhenti di dekat Hyorin. Mobil yang menurut Hyrin sudah tidak begitu asing. Seseorang membuka kaca mobil hitam itu.
“Hyorin ah~” panggilnya
Hyorin mendekat. Dan tidak salah lagi orang itu adalah Yeo Seob sunbae.
“ Hyorin ah~ , masuklah. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat.” Katanya
Hyorin sedikit mengernyitkan dahi.
Yeo seob keluar dari mobilnya. Ia lalu membawa Hyorin untuk masuk ke dalam dan kembali masuk.
“ pakai sabuk pengamanmu.” Kata Yeo Seob
              Mobil itupun melaju. Mereka menyusuri jalan. Menuju Seoul.setelah beberapa lama. Mereka sampai di sebuah kantor. Itu adalah kantor Hyorin.
“ dari mana kau tahu?” tanya Hyorin heran.
“tahu dong. hehe” Yeo Seob malah menjawabnya dengan candaan. “ sudah sana masuk. Kau hampir terlambat. Hyorin hanya kebingungan. Pertanyaan yang ada dibenaknya saat ini ialah. Dari mana ia tahu semua itu???
              Ia hanya berlalu dari hadapan Yeo Seob dengan rasa bingung dan penasarannya. Rasa penasaran itu sedikit menyiksanya karena ia memang seorang yang sangat mudah penasaran dan akan terusmencari sampai ia dapat jawabannya.
 Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Yeo Seob. Diambilnya ponsel dari dalam tas.
“y....y....yeoboseyo?” kata hyorin
“ne? Hyorin ah~ wae?” suara Yeo eob terdengar dari ponsel.
“ sunbae nim, dari mana kau tahu tempat kerjaku?” kata Hyorin
“emmm, bimil[1]” kata Yeo seob menggoda Hyorin
“ya! Sunbaenim. Ah~ michoseo[2]. Sunbaenim dari mana kau tahu?” desak Hyorin
“seharusnya kau tahu”  kata Yeo Seob lagi
Tulit...
Sambungan telepon terputus
“ya Sunbaenim, sunbaenim” Hyorin memanggil – manggil Yeo Seob.
“ aish, geu sarami , michoseo” umpat Hyorin memandang Ponselnya.
Hyorin menghentakkan kakinya ke lantai karena kesal. Hyorin mencoba menelepon Yeo Seob lagi tapi, tidak diangkat. Berkali – kali mencoba, tapi sama saja.
Ia mengumpat (berbicara dengan ponsel).
Tak berapa lama kemudian getar ponselnya menghentikan umpatan – umpatan yang ia keluarkan.
11.30 a.m. Bums Story Restaurant
-          Yeo Seob  -
“benar –benar”katanya lagi.
                Hyorin menekan tombol lift menuju lantai 5 tempatnya bekerja sebagai staf ketua  departement  promosi.
                Di dalam lift sudah ada beberapa orang. Mereka memberikan tatapan aneh kepada HyoRin. Hyorin menyadari itu.

*Hyorin POV*
Sedikit risih memang, tapi sudahlah mungkin itu bukan untukku. Aku tetap percaya diri masuk ke dalam lift. Disana kudengar beberapa orang sedang ber bisik – bisik tapi tak jelas apa yang mereka bicarakan.
Ting
Aku sudah sampai di lantai lima. Aku keluar bersaama beberapa orang. Di perjalanan menuju ruang tempatku bekerja. Beberapa orang terlihat sedang memandangiku sambil berbisik – bisik. Aku tak peduli dan tetap berjalan dengan percaya diri ke meja kerjaku. Di dalam ruangan sudah ada beberapa orang staf. Mereka menatapku dengan sinis.
* Hyorin POV end*
“ sudah berani menggoda putra presedir masih berani datang ke kantor” seorang wanita tiba – tiba saja bicara dari belakang Hyo Rin. Kang ji Hyun atau yang biasa di panggil dengan nama amerikanya yaitu Soyu yang baru datang itu langsung nyeletuk.
“Ji Hyun, apa maksudmu?” tanya Hyorin heran
“ sudahlah kamu nggak perlu pura – pura bodoh lagi. kami semua sudah tau.” Jawab Soyu lalu pergi dari hadapan Hyorin.
Aneh sebenarnya apa yang mereka pikirkan? Gumam Hyorin dalam hati.
                Hyorin tidak peduli. Ia hanya melanjutkan pekerjaannya tanpa beban pikiran. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas. Saatnya untuk pergi karena ini adalah jam makan siang. Hyorin teringat janjinya dengan Yang yeo Seob. Ia segera beranjak deri tempat duduknya dan pergi ke sebuah restoran yang diberi nama Bums Story. Kabarnya restoran inti adalah milik salah seorang member JYJ yaitu Kim  Jae Joong. Pantas saja kebanyakan yang datang kesini adalah kaum hawa dan kebanyakan dari mereka adalah penggemar Jae Joong. Seperti Hyo rin.
                Yeo Seob terlihat sedang duduk di dekat jendela. Hyorin segera menghampirinya.
                “ Annyeong Haseyo” sapanya
                Yeo Seob lalu berdiri dan mengucapkan salam juga. Lalu mempersilakan Hyorin untuk duduk.  Seorang pelayan datang mendatangi mereka.
“ annyeong haseyo, anda mau pesan apa? Silakan” pelayan itu lalu memberiikan buku menu kepada yeo Seob.
“ kau mau pesan apa?” kata Yeo Seob
 Hyorin yang juga memegang menu hanya melongo melihat harga yang tertera disana. Begitu mahal.
“ hei, disini sangat mahal, kenapa tidak pindeh ke tempat lain saja?” bisik Hyorin kepada Yeo Seob.
“ kita sudah terlanjur datang. pilih saja yang kau suka” Yeo Seob juga berbisik.
“sirreo, aku tak mau...” belum selesai Hyorin berbicara Yeo Seob membungkamnya dengan cara ia menyebutkan sebuah menu masakan jepang yaitu Nagasaki jambbomnabe, Asihi Saeng, dan ramyun Sarijuga *menuAsli *author g tau itu nama Indonesianya apa. Pelayan itu mencatat setiap pesanan Yeo Seob lalu pergi meninggalkan kami.
                “ apa – apaan ini?” kata Hyorin setelah pelayan itu pergi.
“ sudahlah terima saja” kata Yeo Seob lagi.
“ ok, sekarang apa yang akan kau bicarakan? Ah~ yang tadi pagi itu. Harus kau jelaskan. Dari mana kau tahu semua itu? Kau tahu kantourku. Dari mana kau tahu itu?” tanya Hyorin yang langsung kepada titik permasalahannya.
“ oh , itu. Kau tahu? Map yang kemarin kau cari itu kan ada alamat kantormu. Harusnya kau tahu itu.” Jawab yeo seob deiikuti senyumannya.
Tak lama makanan datang. mereka menikmati makanan itu sambil sesekali mengobrol.
“ kau akan menerima beberapa hal lai lagi, kuharap kau tidak terlalu terkejut deengan itu.” Kata yeo seob setelah selesai makan.
“ maksudmu?” Hyorin bertanya dengan penuh penasaran lalu sedikit mencondongkan badannya lalu menumpukan dagunya dengan kedua tangannya.
Tapi Yeo Seob hanya tersenyum lalu berkata “ sekarang jam makan siang sudah selesai, cepat kembali ke kantor”
Hyorin terkejut lalu melihat jam tangannya
“ omo~ aku bisa terlambat untuk presentasi.Aku pergi dulu oke. Urusan kita belum selesai. Aku harus tahu semua maksudmu itu” kata Hyorin kemudain beranjak dari tempat duduknya.
                Saatnya presentasi untuk rapat promosi datang juga. Hyorin bersiap menuju ruang rapat departemen promosi. “huh, semangat Hyorin. Fighting” Hyorin berkata -  kata dengan semangat untuk menyemangati dirinya sendiri lalu mnengepalkan tangannya tanda semangat.
                Hyorin berjalan ke ruang rapat. Sampai di ruangan yang tidak jauh dari tempat untuk departemen promosi ia segera masuk lalu mengambil tempat duduk untuknya. Ia mempersiapkan sedikit lagi untuk presentasinya. Orang – orang sudah datang. mereka mengobrol satu sama lain. Termasuk Hyorin yang sedang mengobrol dengan sahabat dekatnya di kantor yaitu Lee Ji Eun.
                Seseorang membuka pintu ruang rapat lalu berkata. “ semuanya  direktur baru kita sudah datang.” kata lelaki berjas hitam itu lalu membungkuk ke pintu mempersilahkan seseorang untuk masuk.
                Seorang yang manis, tinggi, berambut hitam yang stylish dan terlihat berwibawa masuk bersama seorang sekertarisnya. Orang itu adalah Yang Yeo Seob.


[1] Rahasia
[2] Menjadi gila

[FF] On The Raining Days Part 2 Full View



Title:  On The Raining Days
Author: Arumly/Kim Ji Rin
Cast:
Ø  Hyorin Sistar
Ø  Yang yeo seob B2ST
Genre : Romance
Rated : PG 15
Legth : Chaptered
Disclimer :
FF ini murni hasil kerja keras author...
author berhari nyari wangsit. Capek juga mondar mandir tiap kali dapat ide langsung masuk kamar. Capek juga memikirkan kata – kata yang harus dikeluarkan.
Jadi tolong ya kalo mau ngopy ijin dulu terus dikasih credit source. Ku harap kalian mengerti dan mau menghargai karyaku. Jangan Cuma jadi Silent reader. Kritik dan saran sangat aku butuhkan buat karya – karya selanjutnya. Silahkan coment apapun yang kalian mau.
Gomawoyo ◠◡◠ ◜◡◝ ...

Hehe,, udah autor g mau banyak cing cong lagi so Let's get it started

***

TO THE ONE WHO ALWAYS WITH ME WHEN RAIN....
WHO SHOW ME HOW BEAUTIFUL RAINING DAYS....
WHO GIVE ME ANY SMILE WHEN RAIN...

***

PROLOG
               
                Hujan saat itu , kau ada bersamakau. Kau sudah merubahku. Benar – benar merubahku. Semua bermula saat hujan dan berakhir saat hujan.
                Hujan adalah saksi kita. Aku melihat wajhmu di titik hujan yang jatuh ke wajahku. Begitu banyak. Begitu segar. Banyak yang kita lakukan saat hujan.
                Meski begitu. Kasih kita takkan luntur terbawa air hujan karena akan selalu melekat dihatiku.

All happen ON THE RAINING DAYS

***

Chapter 1

Hyorin berjalan sedikit tergesa di jalanan kota Seoul yang cukup ramai. Langit sangat mendung dan ia harus cepat –cepat sampai di rumah agar hujan tidak membasahi dirinya dan file penting yang ada di tangannya. Ia membetulkan tasnya yang sedikit melorot dari bahunya dan terus berjalan ke halte bus. Hyorin terlihat sedikit kerepotan karena beberapa file yang ia di tangannya. Ia berniat mengerjakannya saat ada waktu luang di rumah. Ia hanya disuruh untuk memahami isi file itu lalu membuat preentasinya. Hyorin sampai di sebuah zebra cross. Ia akanmenyebrang. Tapi lampu penyebrangan masih menunjukkan warna merah. Itu artinya ia tak boleh menyeberang. Ia menanti dan beberapa detik kemudian lampu berubah hijau. Orang – orang berjalan menuju ke seberang jalan. Tidak terkecuali Shin kyung. Tapi, di tengah jalan seseorang tak sengaja menabraknya dari belakang semua file itu terjatuh. Tak ada yang terlihat menolongnya. Hyorin memungut file file yang berserakan itu. Ia tidak mendengar bunyi peringatan tanda bahwa lampu akan berubah merah lagi dan juga suara klakson mobil terdengar memperingatkan Hyorin agar ia segera menyingkir jika tak ingin mati. Hyorin tidak peduli ia tetap berusha mengumpulkan kertas – kertas itu. Seorang lelaki yang bertangan kekar  meraih lengannya dan mengambil beberapa file Hyorin yang tercecer di jalanan. Rintik hujan muai turun. Lelaki itu menariknya ke seberang. Hyorin berdiri dan berjalan mengikuti orang itu. Ia tinggi. Bahunya lebar. Ia terlihat sangat keren dengan headphone hitam yang terkalung di lehernya dan terlihat match  dengan jaket hitam dengan garis putih di bahu yang ia kenakan. Untuk sesaat Hyorin mengaguminya. Tapi ia tersadarkan dengan file yang harus ia pelajari.
“tunggu dulu... aku harus mengambil semuanya” Hyorin mencoba melepaskan tangannya yang tercengkeram begitu erat. Tapi tak bisa. Terlalu erat.
“ bodoh. Apa kau ingin mati disana?” tanya lelaki itu.
“tapi itu sangat penting.” Jawab Hyorin lagi.
“sudahlah. Itu tidak lebih penting dari nyawamu. Cepat ikut denganku hujan deras pasti akan segera turun.” Lelaki itu membawa Hyorin ke sebuah cafe.
Lelaki itu mendudukkan Hyorin di kursi yang ada di dekat jendela lalu pergi memesan 2 cangkir latte kepada barista yang berdiri di kasir itu. Setelah itu ia kembali ke tempat duduknya.
“ kau tetap tidak berubah ya. “ kata lelaki itu.
“aku?” Hyorin terbelalak. Lalu melanjutkan pertanyannya. “ aku? Apa maksudmu dengan aku tidak berubah?”
Namun lelaki itu hanya tersenyum lalu berkata dengan sangat tenang. “ ya, kau masih seperti dulu. Apa lagi?”
“seperti dulu? Kau dan aku belum saling mengenal, Kita bahkan baru bertemu kali ini dan kau menarikku meninggalkan barang yang sepenting itu lalu membawaku kesini.” Kata Hyorin marah marah.
Lelaki itu tersenyum “ Yang Yeo Seob imnida” ia menyebutkan namanya.
Hyorin terbelalak. “mwo? Yang Yeo Seob?” tanyanya terkejutdan sedikit berteriak – sedikit?? – . Orang orang di cafe itu melihat ke arah Hyorin. Hyorin menyadari itu. Ia lalu bicara lebih pelan lagi. “ k...kau. yeo seob sunbae???” ia bertanya tanda tidak percaya.
“whoah, kau tidak percaya???” kata Seobie kemudian. Lalu Yeo Seob melanjutkan “terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi itu sudah jelas itu namaku. Oke. Hujan kurasa sudah reda. Kau ingin pulang?? Ayo kuantar.”
“oh, oke aku percaya Hyorin imnida, dan kurasa aku memang harus pulang. Tapi tidak perlu diantar” jawab Hyorin.
***
*YEO SEOB POV*
Aku menawarinya untuk mengantarnya pulang. Tapi sayang ia menolak. Hyorin, nama wanita itu. Ia beranjak dari kursi di depanku lalu berjalan keluar. Ia masih sangat cantik. Malah lebih cantik. Ia sama sekali tidak berubah sejak aku kuliah dulu. Tidak salah aku menyukainya dari dulu. Aku baru kembali dari Jerman dan kembali untuk mencari cinta pertamaku itu. Namun, belum sempat kucari aku melihatnya tengah memungut sesuatu di Zebra cross  dan hampr tertabrak. Aku senang bisa bertemu dengannya. Aku tak mau menyia – nyiakan kesempatan ini. Meski ia tak mau kuantar. Aku tetap akan mengantarnya. Akhirnya aku memutuskan untuk mengikutinya dari belakang. Jalan ke Halte Bus cukup jauh juga. Aku berjalan di belakangnya tanpa ia mengetahui keberadaanku. Halte sudah terlihat tapi masih cukup jauh. Langit gelap lagi. sepertinya buruk. Aku melihat sebuah mini market lalu memutuskan membeli sebuah payung. Benar saja saat aku keluar dari mi ni market hujan turun dengan derasnya. Pikiranku melayang pada Hyorin. Aku segera berlari ke arah halte bis. Ah, dia sudah dekat dengan halte bus. Kulihat Hyorin berlarian ke Halte. Aku pun mengejarnya. Dari belakang kupayungi dia. Wajahnya menoleh kepadaku. Sangat manis. Aku tersenyum kepadanya. Lalu mengajaknya segera berjalan kembali.
*HYORIN POV*
Sial hujan lagi. kali ini lebih deras. Halte sudah cukup dekat. Aku berlarian kesana. Saat aku hampir sampai seseorang memayungiku dari belakang. Aku menoleh. Kulihat Yeoseob Sunbae ada disana. Ia yang memayungiku.
“Sunbae, kau kenapa disini? Kau mengikutiku ya?” tanyaku padanya.
Ia hanya tersenyum lalu berkata.
“ayo jalan” katanya.
Kami lalu berjalan ke halte. Tapi percuma juga aku dipayungi. Bajuku sudah basah kuyub.
*HYORIN POV END*

Sebuah mobil hitam berhenti di dekat halte bus. Yeoseob melangkah menuju mobilitu Hyorin terlihat sangat tidak peduli.
“Hyorin, hei itu namamu kan?” Yeo Sob memanggil hyorin yang tengah berdiri di halte. Sontak Hyorin menoleh. “na??” jarinya menunjuk dirinya sendiri. “iya kau” kata Yeo Seob meyankinkan “ ayo pulang. Ayo ikut aku” lanjut Yeo Seob. Hyorin melangkah maju. “tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” Kata Hyorin lagi.
“Hujan – hujan begini?” kata Yeo Seob lagi. lalu ia melanjutkan “sudah cepat masuk.” Yeo Seob menarik Hyorin agar masuk ke mobil lalu menutup pintunya. Ia juga naik mobil di tempat duduk bagian depan. Hyo Rin tidak berontak ia mau saja masuk ke mobil. Sopir yang duduk di sebelah Yeo Seob itu. Di tengah perjalanan Hyorin bertanya pada Yeo Seob
“ Kau tadi kan tidak bawa mobil?”
Yeo Seob menoleh ke belakang lalu bicara “ rencananya begitu. Karena mau jalan – jalan nyari objec foto yang bagus tapi kau lihat sendiri hujan deras di luar. Tdak memungkinkan buat hunting ,jadi aku menelepon Supir Kang untuk menjemput di halte.” Ia lalu tersenyum manis. Sangat manis.
Hyorin mengangguk tanda mengerti. Lalu bertanya lagi.
“kau suka menjadi fotografer ya?”
“begitulah aku senang bisa mengabadikan dunia yang begitu indah ini.” Jawab Yeo Seob kemudian.
“benarkah? Apa kau selalu memfoto objek yang ada di depanmu?” Hyorin kembali bertanya.
“tidak juga, tidak semuanya” jawab Yeo Seob singkat.
“kenapa? Kau bilang suka mengabadikan dunia ini?” Hyorin tak henti – hentinya bertanya.
“aku hanya mefoto yang ku inginkan. Sesuatu yang aku sukai.” Jawabnya lagi
Bla.... bla... bla...
Hyorin dan Yeo Seob mendadak menjadi akrab. Mereka saling bertanya sau sama lain. Menanyakan banyak hal. Menanyakan hal kesukaan masing – masing dan juga mengobrol yan lain.
“ah , kita hampir sampai” kata yeo Seob mengalihkan pembicaraan.
“ sudah sampai?” Hyorin membatin.
Mereka memang melewati jalan menuju rumah Hyorin jadi ia tenang saja. Tapi, saat sampai di sebuah perempatan mobil itu membelok ke kanan menuju perumahan elite.
“ ini bukan menuju rumahku. Kau seharusnya lurus saja” Hyorin kaget.
“benarkah? Maaf , tadi kau tak memberi tahu kami. Ini sudah terlanjur. Mampirlah kerumahku dulu.” Tawar Yeo Seob
“tapi aku harus segera menyelesaikan tugasku untuk besok. Ini file....” ucapan Hyorin terhenti. Ia tersadar Ia kehilangan file itu. Ia mencari – cari di tasnya. Tidak ada. Tidak! Hyorin benar – benar kehilangan file penting itu. Muka Hyorin terlihat akan menangis tapi ia menahannya. Mobil itu memasuki sebuah pekarangan yang luas. Sebuah rumah bercat putih berdiri sangat elegan. Di depan rumah mewah itu ada sebuah kolam air mancur yang sangat indah. Mobil itu berhenti di depan pintu.. Yeo Seob keluar dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Hyorin.
“ ayo masuk.” Ajak Yeo Seob kemudian.
Dengan muka tertunduk ia menuruti saja apa kata Yeo Seob. Mereka masuk ke dalam rumah.
“ duduklah. kau mau minum apa?” tanya yeo seob
“terserah kau saja” Jawab Hyorin. Ia tak terlihat senang. Ia masih sangat sedih dengan file itu.
“ kau masih sangat sedih? Tenang itu pasti bisa ditasi. File itu bisa kita temukan.” Kata yeo Seob menenangkan Hyorin.
Entah kenapa hati Hyorin menjadi lebih tenang dengan nasihet Yeo Seob. Hatinya begitu lega mendengarnya. Ia merasa Yeo Seob adalah orang yang sangat hangat. Saat ia kuliah dulu ia tidak terlalu memperhatikan Yeo Seob . jadi ia tak pernah tahu kalau Yeo Seob adalah orang yang begitu hangat dan baik. Ia melihat Yeo Seob melangkah ke dapur. Hyorin melihat sekeliling rumah. Rumah begitu besar tapi kenapa tidak sepi sekali? Batin Hyorin. Ia melihat sebuah foto terpajang di meja dekat sofa di ruang tamu. Ia beranjak dari tempat duduknya dan mendekati foto itu. Seorang anak laki – laki yang masih kecil tersenyum dengan manisnya kearah kamera dan disebelahnya juga ada seorang wanita yang juga tersenyum sangat cantik. Yeo Seob datang mendekati Hyorin . ia mengulurkan tangannya dan memberikan sebuah handuk.
“ keringkan dulu tubuhmu. Jika tidak kau bisa sakit.” Kata Yeo Seob.
Hyorin meraih handuk itu.
“ Kamar Mandi ada di atas dekat lemari besar disana kau bisa memakainya.” Kata Yeo Seob. Ia mempersilakan Hyorin untuk naik. Sementara itu ia masuk ke kamarnya dan mengganti baju. Ia juga mengambil sebuah kaus lalu meletakkannya di kasur. Ia tahu baju Hyorin sudah sangat basah. Hyorin keluar dari kamar mandi. Masih mengeringkan rambutnya dan masih memakai baju yang basah itu.
“ Hyorin,” panggil Yeo Seob. “ bajumu terlalu basah. Aku takut kau akan sakit nanti. Kau bisa ganti dengan bajuku. Sudah kusiapkan di kamar.” Kata Yeo Seob melanjutkan . “ ne , gomawo. Tapi...” jawan hyorin. “ sudahlah. Pakai saja. Itu masih baru. Tak perlu khawatir.” Ucap Yeo Seob meyakinkannya. Hyorin mengangguk. Yeo Seob turun ke lantai pertama. Hyorin masuk ke kamar Yeo Seob lalu mengganti baju.
                Kedodoran , itulah kata yang pas menggambarkan baju yang sekarang dipakai Hyorin. Jelas saja karena ukuran tubuh Yeosob lebih besar. Sudah sangat terlihat. Yeo seob juga lebih tinggi. Hyorin keluar kamar lalu turun.  ia melihat Yeo Seob yang duduk termangu memandangi sebuah foto. Hyorin lalu mendekatinya. “hai. Terima kasih ya” kata Hyorin
Yeo Seob menyadai kedatangan Hyorin lalu menoleh padanya dan berkata.
“eh, kau sudah selesai?” . Hyorin mengangguk. Aneh rasanya. Hyorin tak merasa canggung lagi dengan Yeo Seob. “ itu foto siapa?” tanya Hyorin kemudian ia duduk tidak jauh dari Yeo Seob. “ oh, dia ibuku.” Kata Yeo Seob. “cantik. Sekarang dia ada dimana? Kenapa sepertinya dia tak disini? Rumah begini besar tapi sangat sepi.” tanya Hyorin lagi. anak ini benar – benar orang yang selalu penasaran. Yeo Seob hanya tersenyum dan berkata “ dia, bercerai dari ayahku dan sekarang tinggal di luar negeri. Aku tinggal sediri disini” ka Yeo Seob menjelaskan. Hyorin merasa bersalah atas pertanyaannya tadi. “ maaf” kata Hyorin smbil menundukkan mukanya. “ sudahlah. Kau tak perlu seperti itu. Ini memang kenyataan. “ Yeo Seob berkata dengan lembut. “ kau belum makan malam kan? Ayo kita makan diluar saja” tawar Yeoseob.
“oppa, kau akan mengajakku makan diluar dengan pakaian yang kedodoran seperti ini?” Hyorin menyeringai. “kurasa lebih baik makan dirumah. Kau punya apa?” lanjut Hyorin. Yeo Seob merasa kebingungan. “ lihat saja sendiri di kulkas” kata Yeo Seob. Hyorin melangkah ke dapur yang tak jauh dari ruang tamu lalu membuka kulkas disana. Hanya ada buah dan sedikit sayur. Tak ada yang bisa dibuat lauk. “ hanya ada ini?” kata Hyorin. Yeo Seob yang berdiri di samping kulkas tertawa. “ ya hanya itu. Karena aku jarang makan dirumah. Aku tak begitu pintar memasak.” Jawab Yeo Seob.
“ kalau begitu, bantu aku membeli sesuatu di supermarket.aku bisa meminjam ponselmu”. Yeo Seob mengambil ponsel disakunya lalu ia berikan kepada Hyorin.  Hyorin mengetikkan sesuatu di ponsel Yeo Seob. Sesuatu berdering di tas Hyorin.
“ini nomorku. Sekarang pergilah ke Supermarket.” Kata Hyorin sambil memberikan Ponsel Yeo Seob kepada pemiliknya.
“aku?” Yeo Seob keheranan.
“ iya kau” Hyorin meyakinkan.
“kenapa harus aku?” tanya Yeo Seob yang masih keheranan.
“ sudah kubilang tadi aku malu keluar dengan baju seperti ini. Hahaha” kata- kata Hyorin ini membuat Yeo Seob menurut saja
“ya, baiklah tapi, apa yang harus kubeli? Kau bahkan tidak memberikanku daftar belanja” omel Yeo Seob.
“ ah, pergilah. Aku akan mengirimkannya setelah ini” Hyorin menyuruh Yeo Seob untuk pergi. Sementara ia mengambil ponselnya.
                Yeo Seob sampai di supermarket. Tapi ia bingung harus membeli apa. Ia mendorong troli yang masih kosong itu lalu mengirim pesan pada Hyorin.
*Yeo Seob POV*
                Apa yang akan aku beli disini? Gumam yeo Seob dalam hati. Aku sudah berjalan kesana – kemari. Troli ini masih kosong. Tapi Hyorin tak juga mengirimkan daftar belanja. Beberapa pramuniaga disana memandangiku yang dari tadi mendorong troli kosong. Akhirnya kuputuskan mengambil sebugkus roto, susu, juga kopi yang sebenarnya tak begitu kubutuhkan karena aku masih memiliki persediaan dirumah. Menyebalkan sekali menunggu SMS dari Hyorin aku lalu meneleponnya.
“yoboseyo?” suara Hyorin terdengar dari seberang sana.
“ah~ kau ini. Menyuruhku belanja. Tapi kau tak mengirimkan daftar belanjaannya juga.” Aku sedikit berteriak.
“maaf. Maaf. Baru saja aku akan mengirimkannya.” Suara Hyorin terdengar sangat lembut di telepon.
“ sudahlah tak perlu. Bicara disini saja” kataku kemudian.
*Yeo Seob POV end*
*Hyorin POV*
                Dudidudidam... syalala. Biga eoneun nalen naneun chajawa...
Brrr...brrr... siapa sih ganggu aja. Lagi asik motong sayur juga. Aku mengambil ponselku yang tergeletak tak jauhh dariku.
“yoboseyo?” aku menjawab telepon itu.
Yeo Seob marah – marah rupanya. Aku lupa mengiriminya daftar belanja. Tapi, ku bilang saja tadi aku akan mengirimnya. Hehehe. Aku memberi tahu dia tentang apa saja yang ia beli.
Beberapa saat kemudian dia sudah pulang ke rumah.
*HYORIN POV END*
                Terdengar suara pintu tertutup. Rupanya Yeo Seob sudah pulang. “eh kau sudah pulang.” Kata Hyorin. “sini belanjaannya” Hyorin mengambil belanjaan yang ada di tangan Yeo Seob
“ eh ini berat. Biar aku yang bawa ke dapur” Yeo Seob mengambilnya lagi dari tangan Hyorin. Mereka berdua berjalan kedapur. Hyorin segera memulai memasak. Ia mengambil ini dan itu. Sementara itu Yeo Seob duduk dekat dengan meja kerja. Yeo Seob terus saja memandangi Hyorin yang sedang asyik memasak itu.
“ apa aku tidak perlu membantu?” tawar yeo seob.
“ harusnya dari tadi kau bilang itu. Ka harusnya membantuku. Sekarang sudah hampir selesai.” Kata Hyorin kemudian membuka tutup panci.
“ah ~ supnya sudah matang. Yeo Seob sunbae. Bisa tolong bawakan ini ke meja makan?” Kata Hyorin setelah sup itu ia tuangkan ke mangkuk saji.
“ ah baiklah.” Yeo seob mengambil sup itu lalu membawanya ke meja makan. Hyorin juga membawa beberapa makanan.
“sudah selesai. Saatnya makan” Hata hyorin sambil menepuk – nepukkan tangannya. “ silakan tuan” lanjut Hyorin. Ia mempersilakan Yeo seob untuk duduk dan menikmati makanan itu.
Yeo Seob belum duduk juga. Tapi malah menyeret sebuah kursi dan berkata “hei ayolah, kau kenapa seperti itu, biasa saja. Kau juga harus makan.” Kata Yeo Seob kemudian
“ ah~ baiklah. Aku akan duduk” Hyorin lalu duduk di hadapan Yeo Seob.
“ hem enak. Sangat enak. Ini. Kau harus makan ini.” Yeeoseob memberikan sedikit kimchi ke mangkuk Hyorin. “ ini juga” ia lalu meletakkan potongan daging sapi ke mangkuk Hyorin lagi.
“sunbae. Sudah. Cukup, aku tak bisa memakan semuanya. Perutku hampir penuh.” Kata Hyorin kemudian.
“ tapi ini benar –benar enak” rajuk yeo Seob.
Mereka menikmati makan malam itu. Ini adalah pengalaman yang tak bisa dilupakan oleh Yeo Seob. Ia sangat bahagia malam itu.
                Setelah mereka usai merapikan meja makan, Yeo Seob mengantar Hyorin pulang ke rumah.

To be continued.....

eittt tunggu dulu.. jangan lupa comentnya ya...
makasih udah baca
nantikan chapter selanjutnya
[FF] ON THE RAINING DAYS (PROLOG, AND CHAPTER 1) Full View

HOME | ABOUT

Copyright © 2011 KPOP Family by 김지린 | Powered by BLOGGER | Template by 54BLOGGER